|
#1
|
||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||
![]()
Kemampuan Nabi Muhammad dalam hal baca tulis sampai saat ini memang tetap menjadi sebuah polemik di dunia Islam. Sebagian besar umat Islam berpendapat bahwa nabi memang buta huruf, sedangkan yang lain mencoba membantah ini. Masing-masing memiliki alasan yang menurut mereka lebih kuat dibanding yang lain.
Baik kelompok yang menolak maupun yang menerima ke-ummi-an nabi sebagai sebuah kebutahurufan sama-sama berangkat dengan menggunakan ayat yang sama dalam perdebatan mereka. Yaitu: “orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka…..” Berkenaan dengan hal ini Prof. Dr. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah-nya menyatakan bahwa; “Kata ummi terambil dari kata umm/ ibu dalam arti seseorang yang tidak pandai membaca dan menulis. Seakan-akan keadaanya dari segi pengetahuan atau pengetahuan membaca dan pengetahuan menulis sama seperti keadaan ibunya yang tidak pandai baca-tulis.” Selain itu, masih menurut beberapa mufasirin kata ummi ini berasal dari kata ummah yang menunjukkan bahwa masyarakat pada masa sebelum al-Qur’an turun memang dalam kondisi buta huruf. Namun Prof. Dr. Quraish Shihab menegaskan bahwa memang Rasulullah memang benar-benar ummi dalam artian buta huruf. Hal ini dikarenakan untuk menjaga otentitas al-Qur’an itu sendiri. Ini dipertegas al-Qur’an sendiri. “Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu).” Kalau dilihat melalui sejarah bangsa Arab, memang pada dasarnya, di lingkungan Hijaz, orang-orang yang pandai memang sangat sedikit sehingga mereka dengan mudah dapat dikenal. Termasuk di Makkah, ibu kota Hijaz. Tentu saja di lingkungan seperti ini, sekiranya Nabi pernah belajar membaca dan menulis pada seorang guru, tentu beliau akan terkenal saat itu. Seandainya kita tidak menerima kenabiannya, bagaimana mungkin beliau dalam kitabnya menjelaskan keummian dirinya dengan tegas? Apakah masyarakat tidak akan protes kepadanya seraya barkata, “Kamu kan pernah belajar”? Hal ini merupakan indikasi yang jelas akan keummiannya. Pendapat di atas tentu juga menui kritik. Salah satunya dari Syeikh al-Maqdisi, penulis buku Nabi Muhammad, Buta Huruf atau Genius?. Ia mengatakan bahwa para ulama telah melakukan kekeliruan dalam menafsirkan kata ummi dalam al-Qur’an. Al-Maqdisi tidak bisa menerima jika Nabi adalah seorang yang buta huruf dan aksara. “Bagaimana mungkin seorang yang ummi dapat memimpin dan mengajarkan ajaran Tuhan dengan baik jika ia tidak berpengetahuan dan berilmu.” Katanya. Untuk memperkuat argumennya al-Maqdisi menggunakan hadis yang diriwayatkan Zaid bin Tsabit bahwa Nabi pernah bersabda: “Jika kalian menulis kalimat Bismillahirrahmanir rahim, maka perjelaslah huruf sin di situ.” Hadis ini menunjukkan bahwa nabi pandai membaca dan menulis. Jadi lagi-lagi tidak mungkin orang yang tidak dapat baca dan tulis dapat mengajar umatnya. Menurut al-Maqdisi kesalahan yang dibuat oleh para ulama pada dasarnya terajadi karena kesalahan pemaknaan pada kata ummi itu sendiri. Kata ummi terlalu diartikan secara letterlock oleh para ulama sehingga apa yang dihasilkannyapun juga literar seperti apa adanya. Kata ummi akan lebih tepat jika diartikan sebagai orang-orang di Arab selain Yahudi dan Nasrani. Karena kedua golongan ini menyebut orang-orang di luar diri mereka sebagai ummi. Jadi seperti itulah pemaknaan yang sesuai mengenai kata ummi ini. Dengan menafsirkan kata ummi ini dengan golongan non-Yahudi dan non-Nasrani, maka kepribadian Nabi sebagai uswatun hassanah tidak akan terkoyak. Namun, dari kritik inipun saya melihat bahwa al-Maqdisi dalam bukunya itu terlalu berspekulasi dengan tidak melihat kondisi yang ada pada saat itu secara detail. Meskipun pendapatnya juga tidak begitu salah dalam artian pernyataan bahwa ummi itu adalah orang-orang selain Yahudi dan Nasrani, namun, itu belum cukup membuktikan Nabi dapat membaca dan menulis atau tidak. Apalagi jika kita melihat tulisan Martin Lings dalam Muhammad yang menggambarkan kondisi sewaktu Nabi Muhammad masih kecil paska kematiannya kakeknya, beliau harus bekerja untuk mendapatkan nafkahnya sendiri dengan menggembalakan kambing. Ini dikarenakan baik kondisi ekonominya sendiri maupun pamannya, abu Thalib, dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Jadi praktis kehidupan Muhammad hanya berkutat pada pegunungan dan lereng-lereng padang rumput di Hijaz. Dan kemungkinan untuk belajar pada seorang yang pandai di Hijaz pada waktu itupun begitu kecil. Meskipun pernah diriwayatkan ia pernah belajar pada seorang Nasrani yang bekerja sebagai pandai besi, namun riwayat inipun masih diragukan. Namun ada satu pendapat lagi yang menurut saya menarik. Pendapat ini muncul di kalangan orang-orang Syiah yang meski tetap berpendapat bahwa Nabi memang tidak bisa membaca dan menulis namun mereka mengatakan bahwa Nabi memiliki kemampuan khusus dalam memperoleh kebenaran. Kemampuan itu mereka sebut sebagai intuisi, yaitu kemampuan untuk memahami sesuatu tanpa memerlukan pengenalan langsung pada apa yang dikenalnya itu. Jadi ketika nabi mengajar dan memberi pelajaran pada para sahabat Nabi tidak perlu bisa membaca dan menulis terlebih dahulu untuk melakukan itu, karena Nabi sendiri adalah ibarat tulisan dan sumber pengetahuan itu sendiri. Selain itu sebuah riwayat dari Imam Bukhari yang menyebutkan bahwa, “Rasulullah bersabda: Malaikat itu mendekapku sampai aku sulit bernafas. Kemudian ia melepaskanku dan berkata, ‘Bacalah!’Kujawab, Aku tidak dapat membaca. Ia mendekapku lagi hingga akupun merasa tersesak. Ia melepaskanku dan berkata, ‘Bacalah!’ Dan kembali kujawab, aku tidak dapat membaca! Lalu, ketiga kalinya ia mendekapku dan seperti sebelumnya, kemudian melepaskanku dan berkata………………” Ini menunjukkan bahwa nabi memang seorang yang ummi dalam artian tidak bisa membaca dan menulis. Namun tidak menutup kemungkinan lainnya untuk terjadi, karena sejarah bisa saja diutak-atik. Maka dari itu sejarah selalu membutuhkan sikap kritis kita dalam mempelajarinya. Dari Konteks keumian nabi ini saya melihat bahwa nabi mengalami beberapa fase dalam kehidupan beliau. fase pertama, saat masih kecil dan usia remaja, hingga masa-masa umur dua puluhan. Fase ini, sosok nabi adalah seorang yang memang benar dikatakan buta huruf. Setelah fase inilah kemudian spekulasi dapat dimunculkan. masa perkenalannya dengan Khadijah, dijadikan manager khalifah dagang wanita kaya ini. Cukup sulit dikatakan bahwa nabi buta huruf pada sosok nabi sebagai ahli dagang. meski kemudian dapat dimunculkan pula bahwa bisa saja seseorang menjadi pedagang tanpa harus bisa membaca dan menulis. namun sebagai orang kepercayaan khadijah saya pikir Nabi tidak lagi buta huruf, paling tidak beliau telah bisa membaca sumber: Benarkah Nabi Muhammad Buta HUruf? Poetraboemi KLIK LINK UNTUK MELANJUTKAN : Post bagian ke 2 Post bagian ke 3 Post bagian ke 4 Last edited by wendy; 09-06-09 at 15:38. Reason: kasih link gitu aja wen ;) |
||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||
![]() ![]() ![]() ![]() Special ---> New Account Rapidshare - Murah & Full Garansi sampai Exp Philosopher, Orator, Apostle, Legislator, Warrior, Conqueror of Ideas, Restorer of rational dogmas, of a cult without images, The Founder of twenty terrestrial of empires and of one spiritual empire...that is Muhammad. As regards all the standards by which Human Greatness may be measured, we may well ask, Is There Any Man Greater than He? (Lamartine, Histoire De La Turquie, Paris, 1854. Vol.II, pp 276 - 277) |
|||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
|||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||
![]() ![]() Tolong kalo komentar sesuai Topik!!...jangan biarkan komentar2 konyol, ga penting dan idiot berlanjut Demi kelangsungan diskusi dalam thread baca Peraturan dulu disini
|
|||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||
![]() Last edited by wendy; 09-06-09 at 17:33. |
||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||
![]() ![]() ![]() ![]() Special ---> New Account Rapidshare - Murah & Full Garansi sampai Exp Philosopher, Orator, Apostle, Legislator, Warrior, Conqueror of Ideas, Restorer of rational dogmas, of a cult without images, The Founder of twenty terrestrial of empires and of one spiritual empire...that is Muhammad. As regards all the standards by which Human Greatness may be measured, we may well ask, Is There Any Man Greater than He? (Lamartine, Histoire De La Turquie, Paris, 1854. Vol.II, pp 276 - 277) |
|||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||
![]() ![]() ![]() ![]() Special ---> New Account Rapidshare - Murah & Full Garansi sampai Exp Philosopher, Orator, Apostle, Legislator, Warrior, Conqueror of Ideas, Restorer of rational dogmas, of a cult without images, The Founder of twenty terrestrial of empires and of one spiritual empire...that is Muhammad. As regards all the standards by which Human Greatness may be measured, we may well ask, Is There Any Man Greater than He? (Lamartine, Histoire De La Turquie, Paris, 1854. Vol.II, pp 276 - 277) |
|||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||
![]() ![]() ![]() ![]() Special ---> New Account Rapidshare - Murah & Full Garansi sampai Exp Philosopher, Orator, Apostle, Legislator, Warrior, Conqueror of Ideas, Restorer of rational dogmas, of a cult without images, The Founder of twenty terrestrial of empires and of one spiritual empire...that is Muhammad. As regards all the standards by which Human Greatness may be measured, we may well ask, Is There Any Man Greater than He? (Lamartine, Histoire De La Turquie, Paris, 1854. Vol.II, pp 276 - 277) |
|||||||||||||||||||||||||