Go Back   Gamexeon Forum  Adult Corner  Berita Lain Lain
Connect with Facebook


Berita Lain Lain Mau submit berita yang nggak ada subforumnya ? Silahkan disini.

Reply
 
LinkBack Thread Tools
  #1 (permalink)  
Old 16-08-09, 21:49
chiet's Avatar
chiet  chiet is offline
Posts: 4,758 Rep Power: 2519
chiet has a reputation beyond reputechiet has a reputation beyond reputechiet has a reputation beyond reputechiet has a reputation beyond reputechiet has a reputation beyond reputechiet has a reputation beyond reputechiet has a reputation beyond reputechiet has a reputation beyond reputechiet has a reputation beyond reputechiet has a reputation beyond reputechiet has a reputation beyond repute
Join Date: Jul 2008
Points: 2,962,379, Level: 99
Points: 2,962,379, Level: 99 Points: 2,962,379, Level: 99 Points: 2,962,379, Level: 99
Level up: 12%, 30,371 Points needed
Level up: 12% Level up: 12% Level up: 12%
Activity: 8%
Activity: 8% Activity: 8% Activity: 8%
Level : Destroyer
 
chiet's System
Inventory :
User owns 1x Pinky Cute Vinyl Toys User owns 1x Shower Gell User owns 1x Surat Cinta Dalam Botol User owns 1x Hot Cappuccino User owns 1x Playstation 3 User owns 1x Burung User owns 1x Kaos Gamexeon.com User owns 1x Folding @ Home

Penulis Amerika Rob Allyn, Penggagas dan Produser Film Merah Putih


464 Views  0 Replies




[ Minggu, 16 Agustus 2009 ]



Riset Dua Tahun, Tenaga Ahli Kelas Hollywood

Film perjuangan Merah Putih dirilis secara nasional Kamis lalu. Mengambil cerita situasi Indonesia pada 1946/1947, pembuatan film ini melibatkan ahli special effects dan teknisi lain yang berpengalaman dalam perfilman Hollywood. Rob Allyn dan anaknya, Conor Allyn, sebagai produser sekaligus penulis skenario. Rob juga yang punya ide membuat film Trilogi Kemerdekaan Indonesia tersebut.

SUGENG S.-BAYU AJI, Jakarta

---

ADA guru madrasah, ada anak kuli yang ingin balas dendam atas pembunuhan ayahnya, ada playboy priyayi yang pengecut, dan anak-anak dengan latar belakang lain. Mereka bertemu dalam sekolah tentara rakyat. Perbedaan sosial, suku, agama, dan berbagai latar belakang itu tak jarang menimbulkan gesekan di antara mereka.

Urusan belum selesai, sekolah belum tamat, dunia mereka porak-poranda ketika pasukan Belanda menyerang. Anak-anak muda itu lari dari kejaran serdadu yang dipimpin Jenderal Van Mook. Kondisi tersebut membuat mereka mengesampingkan urusan pribadi. Mereka bersatu melawan Belanda dengan cara gerilya di hutan di Jawa Tengah. Itulah sinopsis Merah Putih, bagian pertama dari fim Trilogi Kemerdekaan.

Rob Allyn akan mencoba memasarkan Merah Putih itu di pasar internasional. Dimulai dari Indonesia kemudian diikutkan berbagai festival berskala internasional. "(Pasar) Amerika akan menjadi tantangan. Buat saya, sebagai orang Amerika, sebagai promotor yang agresif, saya berharap sukses," kata Rob, produser eksekutif fim itu, bersama Hashim Djojohadikusumo dan Jeremy Stewart.

Rob dikenal sebagai penulis New York Times bestseller lewat buku sejarah nonfiksi dan intrik politik, Revolution of Hope (Viking Press, 2007) dan Front Runner, Crown (Random House, 1990).

Dia sadar membuat film perjuangan di Indonesia sangat berisiko. Sebab, pasar film Indonesia kini berpihak pada genre tertentu; komedi, horor, atau drama remaja. "Ya, memang, (keputusan membuat film perang) seperti kita melompat dari atap tanpa jaring penadah di bawahnya," katanya seraya tersenyum.

Apalagi, untuk ukuran Indonesia, biaya pembuatan film sebesar Rp 60 miliar itu sangat besar. Tapi, Rob tetap yakin semua orang pasti tertarik pada cerita tentang negaranya sendiri. "Walau sejak saya ke sini lima tahun lalu, semua orang bilang, kamu tidak akan sanggup membuat film berkualitas di Indonesia. Tidak bisa!'' katanya. ''Kalau mau membuat film seni ya bisa saja, tapi hanya dapat penonton sangat sedikit. Kecuali jika saya membuat film horor atau apa itu, pocong atau film percintaan dan mungkin film remaja," lanjut pria kulit putih itu.

Ada dua hal yang membuat hatinya kukuh melanjutkan idenya. ''Pertama, bagaimana bisa tahu (film perjuangan tidak akan sukses) jika belum pernah dicoba,'' kata pria ramah itu. "Kedua, sudah ada contoh, Laskar Pelangi, film berkualitas (di luar genre film yang dianggap laris) sanggup membuat banyak orang datang ke bioskop," lanjut pria kelahiran California, 18 Oktober 1959, tersebut.

Upaya Rob didukung anak kandungnya, Conor Allyn. Dia menulis skenario merangkap produser dalam film yang disutradarai Yadi Sugandi itu. Conor mengaku bangga menjadi bagian dari industri film Indonesia. "Ini memang pengalaman pertama saya. Tapi, banyak orang yang jauh berpengalaman terlibat di Merah Putih," kata pria kelahiran 15 April 1986, itu saat ditemui di Studio XXI Senayan City, Rabu (12/8) malam.

Alumnus jurusan sejarah di Goergetown University, Washington DC, itu telah melakukan riset dua tahun untuk film tersebut. "Saya tidak ingin publik melihat Merah Putih seperti menonton film perang di abad ke-21. Saya ingin membawa mereka ke Jawa Tengah pada 1940-an. Karena itu, saya harus riset," kata pria dengan tinggi badan dua meter itu.

Tak mudah melakukan riset. Apalagi, "Saya hanya bisa sedikit bahasa Indonesia," katanya. Meski saat kuliah mengambil spesialisasi sejarah kontemporer Indonesia, Conor perlu mendalami gambaran perang Indonesia di masa lalu.

Membaca buku sejarah saja tak cukup. Conor mencari narasumber nyata. Yakni, pihak-pihak yang mengalami perang. "Saya dibantu kru mewawancarai sejumlah veteran," kata pria yang Rabu lalu memakai kemeja batik Solo.

Para veteran itu banyak membantu memperbaiki data-data esai yang telah dia buat. Termasuk, seragam dan senjata yang digunakan dalam perang. ''Kami ingin tahu seperti apa motor yang digunakan saat itu, termasuk jenis bannya,'' katanya.

Dia paham, film akan berkesan jika kaya detail. Karena itu, Conor berusaha bahasa dalam film itu seperti di Jawa Tengah 1940-an. Penggunaan score (musik dan tata suara) pun diperkaya. Misalnya, ada suara Radio Belanda dalam film, orkestra dari Glen Miller, penyanyi tenar asal AS, ada juga Moonlight Serenade. "Kami juga mencari suara Soekarno dalam rekaman radio," kata Conor.

Aktor yang terlibat dalam film itu antara lain, Lukman Sardi, Darius Sinathrya, Dony Alamsyah, Zumi Zola, Rifnu Wikana, Rahayu Saraswati, dan Astri Nurdin. Sutradara: Yadi Sugandi, Musik: Thoersi Ageswara dan Sinematografi: Padri Nadeak.

Beberapa tenaga ahli asing ikut menggarap film ini. Alasannya, menurut Conor, di Indonesia banyak sutradara berbakat, tapi belum berpengalaman membuat film perang. Tenaga asing tersebut memberikan bantuan secara teknis, seperti special effects bom dan senjata.

"John Bowring (key armourer, Red.) banyak membantu. Kami (tenaga asing) pada intinya hanya mengambil bidang-bidang di mana kru Indonesia belum berpengalaman," katanya. John Bowring adalah spesialis senjata asal Australia yang terlibat dalam The Matrix dan X Men Origins: Wolverine.

Selain Bowring, tenaga asing lain adalah Adam Howarth, ahli efek khusus yang ikut mengerjakan Saving Private Ryan, Blackhawk Down, dan Harry Potter and The Sorcerer's Stone. Ada juga sutradara bidang laga Rocky McDonald (Mission Impossible II dan The Quiet American), jago make-up dan visual effects asal London, Rob Trenton (Batman: The Dark Knight).

Meski banyak pengalaman, bukan berarti tenaga asing itu tidak mendapat pelajaran berharga syuting di Indonesia. Conor mengacungkan jempol atas kerja keras kru Indonesia. Jika kru asing bekerja sepuluh jam sehari, "Indonesian crew will never, ever, ever, ever stops working (kru Indonesia tidak pernah berhenti bekerja, Red)," katanya.

Dia mengatakan, dalam satu scene (adegan) peperangan, kru Indonesia bekerja hanya sekitar 30 menit untuk menyiapkan segalanya. Yang membuat Conor lebih kagum, ada juru kamera Indonesia yang berani mengambil gambar sambil berayun di tali. "Itu tidak pernah terjadi di luar Indonesia. Kami benar-benar belajar dari mereka," pujinya.

Merah Putih bermula dari kunjungan Rob ke rumah teman dekat sekaligus rekan bisnisnya, Hashim Djojohadikusumo, sekitar lima tahun lalu. Dia tertarik pada dua foto yang terpajang di ruang tamu. Pria berseragam pejuang, Lettu R.M Subianto Djojohadikusumo dan Kadet R.M Sujono Djojohadikusumo.

Rob bertanya, siapa mereka? Hashim kemudian bercerita bahwa dua pria tersebut adalah pamannya yang terbunuh di Lengkong ketika mengambil alih persenjataan Jepang pada masa awal revolusi. Saat itu Jepang bersiap menyerahkan kekuasaan Belanda kembali ke Inggris. "Cerita itu bisa menjadi salah satu film Hollywood yang luar biasa!" ujar Rob.

Merah Putih diproduksi bersama PT Media Desa Indonesia, milik Hashim dan perusahaan film internasional Margate House Ltd Milik Rob Allyn dan Jeremy Stewart. (*/cfu)


jawapos.co.id


Reply With Quote
Reply     
.

Sponsored Links

Sponsored Links

Thread Tools

Posting Rules

Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off
Trackbacks are On
Pingbacks are On
Refbacks are On


All times are GMT +7. The time now is 18:53.

no new posts

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163
Page generated in 0.22822 seconds with 12 queries