Pemain juga lebih reaktif terhadap apa yang datang ke arah dirinya. Dorongan dari bek lawan dan tackle akan semakin terasa realistis. Saat kamu berhadapan dengan pemain yang sama besar, atau lebih besar, ada kemungkinan kamu terjengkak dan terjatuh ketika beradu lari. Ketika ada tackle dari depan dan kamu sedang berlari kencang, maka akan terlihat pemain jatuh bergulung-gulung, sedangkan ketika kamu di-tackle dari samping, maka kamu akan terjatuh ke samping. Wasit juga jadi lebih variatif, tidak hanya tackle kasar saja yang bisa disebut pelanggaran, mendorong, tidak sengaja mengganjal atau menginjak kaki lawan juga akan memberikan hadiah tendangan bebas. Bahkan, kini pemain bisa melakukan aksi diving, dan wasit beberapa kali melakukan kesalahan dengan menghadiahkan penalti. So, kamu akan sesekali merasa frustasi dengan ketidakadilan sang hakim garis. Tapi justru hal ini yang menambah realisme, karena di dunia sepak bola, diving telah menjadi salah satu hal yang sering kita jumpai dan hampir tidak bisa dipungkiri lagi, sepak bola di manapun sesekali pasti ada diving. Sebaliknya, jika ketahuan kamu melakukan diving, siap-siaplah menerima ganjaran yang setimpal. Dan lagi, pemain dan bola bisa sial gara-gara wasit. Umpanmu ada kemungkinan memantul di kaki wasit, atau pemainmu terpeleset ketika berlari gara-gara menabrak wasit.
Dribble juga tidak selincah seperti dulu, kini, kecepatan dribble sedikit diperlambat, sehingga kamu bisa memperhatikan gerak kaki pemain. Oleh karena itu, ketika kamu berlari, kemudian berbelok ke kiri, ke kanan, dan ke kiri lagi, pemain akan terlihat melakukan gerakan tipu, seolah-olah ke kanan, padahal ke kiri. Hal ini sangat enak ditonton, membuat gerakan jadi luwes, mengingat pada Pro Evolution Soccer tahun lalu, pemain akan bergerak zig-zag kiri kanan kiri, sesuai kontrol. So, pada game kali ini, lebih banyak gerakan cantik yang bisa dilakukan. Hal ini juga memberikan keuntungan saat kamu defensif, kamu akan bisa melihat ke mana pemain akan berbelok, sehingga kamu bisa menutup lubang pertahanan yang hendak disusupi tersebut.
Aksi antar pemain pun berbeda, pemain dengan skill mempesona seperti Cristiano Ronaldo akan memiliki gaya dribble yang lebih banyak dibandingkan pemain yang skill-nya rendah. Selain itu, pemain berteknik tinggi bisa melakukan passing maupun shooting yang tidak lazim, misalnya mengoper dengan tumit, atau menendang secara tiba-tiba tetapi bola yang dilesakkan melengkung dengan indah ke sudut gawang, tidak semua pemain bisa melakukannya. So, terasa bedanya pemain bintang dan pemain biasa.
Pergerakan bola juga lebih realistis. Kali ini, bola lebih independen. Saat mendribble, bola tidak lagi terasa lekat di kaki. Sedikit saja sentuh, maka bola bisa berbelok. Oleh karena itu, jika kamu mendribble terus menerus, akan sulit untuk menembus pertahanan, karena bek lawan akan berusaha menyentuh bola sehingga berbelok, hingga akhirnya kamu kehilangan possession.
Realisme ini berimbas pada pola permainan, ketika menghadapi tim yang memiliki pemain bertahan cepat, maka passing-passingmu harus lebih diperlambat, dan berusaha menarik musuh untuk membuka pertahanan, kalau kamu ikut memainkan bola cepat, dan kamu dibayang-bayangi oleh pemain bertahan secara ketat, maka passing lama kelamaan akan menjadi tidak karuan dan mudah terpotong, atau bahkan tidak sampai tujuan atau tidak terjangkau. Jadi kapan harus berlari kencang, kapan harus mengoper pendek, kapan harus melambatkan tempo, semua harus diatur.
Pergerakan penjaga gawang juga lebih baik. Mereka tidak lagi selihai dulu. Tendangan yang keras akan berkemungkinan mengelabui mereka, free-kick lebih sering membuahkan hasil, dan merebut bola dari kaki lawan berpotensi lebih besar menghadiahkan penalti yang merugikan bagimu. Gerakan kiper dalam melompat dan meliukkan badan terlihat sangat realistis, jauh lebih baik dibandingkan prekuel tahun sebelumnya.