
Bingung dengan berbagai game Jepang yang Story-nya sulit dipahami? Ternyata kamu tidak sendirian karena Alex Hutchinson sebagai Creative Director seri Assassin’s Creed juga memiliki pikiran serupa. Bagi beliau game Jepang itu memiliki cerita yang secara literal tidak dapat dipahami tetapi bagaikan selalu mendapat perhatian yang berbeda dari jurnalis, bahkan tidak jarang mendapat pujian. Sebagai contoh beliau membandingkan Gears of War dengan Bayonetta.
Menurut Hutchinson, Gears of War mendapat kritik keras sebagai game yang memiliki cerita sangat jelek sedangkan game Jepang seperti Bayonetta tidak mendapat kritik yang sama pedasnya. Bagi Hutchinson, lebih baik memainkan Gears of War daripada Bayonetta tetapi game Jepang bagaikan mendapat kartu hijau karena adanya sedikit rasisme di dalam para jurnalis.
Kenapa Hutchinson merasa game Jepang secara literal tidak dapat dipahami? Mungkin beliau memainkan game Jepang yang belum diterjemahkan dalam bahasa Inggris? Kemudian ketika story-nya mengalir, secara literal beliau menjadi tidak dapat memahaminya?
Tetapi memang pada kenyataannya meski game Jepang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris, secara literal tetap banyak ditemukan cerita yang sulit dipahami. Bahkan tidak jarang mereka sengaja menghujani gamer dengan berbagai istilah baru yang terdengar tidak familier untuk menyebutkan suatu hal yang sebenarnya biasa saja dan mudah dipahami. Masih ingat Focus? Fal’Cie? L’Cie? Trusty? Kemudian istilah Revengeance dimana kata Vengeance saja tidak cukup menggambarkan amarah jadi harus ada prefix Re.












