Persamaan antara Deus Ex dan Epic Mickey menurut Warren Spector

Well, seorang agent rahasia dengan sebuah senjata sniper dan seekor tikus dengan membawa kuas cat, mungkin kedua hal tersebut tidak dapat di perbandingkan secara seimbang, namun Warren Spector seseorang yang sedang membuat sebuah game dengan memperhatikan elemen masing –masing dari kedua karakter tersebut, menyatakan bahwa mereka memiliki beberapa persamaan yang sama yang tidak kira.


Ketika pada saat acara PAX di akhir minggu ini, penulis duduk dengan Spector untuk membicarakan mengenai proyek game terbarunya, yakni Disney’s Epic Mickey 2: The Power of Two. Dia memperlihatkan penulis mengenai demo singkat yang menampilkan demo penyusupan sebuah benteng, dimana Mickey dapat menentukan untuk memilih cara rambo (lewat jalan utama atau pintu utama  sambil berusaha untuk mencari jalan yang mungkin terdapat musuh di sepanjang jalan tersebut) atau menggunakan kuas cat nya yang memiliki kekuatan magis kemudian menggunakan pengencer cat (paint-thinner) untuk merobohkan pohon dan mempergunakannya untuk memanjat dinding benteng.Setelah melihat demo singkat ini, kami membicarakan berbagai macam hal,  di antara hal tersebut, dia (Spector) memandang bahwa Epic Mickey secara mendasar memiliki persamaan yang dekat dengan salah satu game PC yang terkenal yakni, Deus Ex.

Secara kasat mata, game ini terlihat berbeda dari wujud fisiknya, satu merupakan cyborg atau android sedangkan yang satu merupakan tikus legendaris yang sudah banyak memiliki peran di berbagai film kartun.  Yang perlu mereka di ketahui adalah, mereka tidak memainkan karakter yang tidak berkacamatahitam, mengenakan trenchcoat atau pun membawa senjata besar. Mereka sedang memainkan karakter berwujud tikus.

Ketika kami memulai pembicaraan tentang kesamaan kedua game tersebut, Spector menyatakan bahwa ritme permainan game Epic Mickey 2 memang bukan bertipe open-world, namun merupakan susunan dari kumpulan zona – zona tertentu yang terhubung dengan satu dengan yang lain (hub-zone ) dimana pemain dapat secara bebas mencoba untuk mengkaji dan mencoba sistem permainan di dalam game tersebut, dimana hal tersebut dapat memberikan suatu perasaan yang berbeda dengan situasi yang tidak dapat di prediksi, dimana kasus tersebut sangat mirip dengan game Deus Ex
“Oke, begini maksud saya. Ketika orang-orang menanyakan kepada saya, kapan kamu akan membuat game yang lain yang serupa dengan Deus Ex, dengan pandangan yang terstruktural, pandangan filosofi design yang mendasarinya, dan perintah yang saya berikan kepada tim design, itu semua terlihat sama.”

Penulis pun menanyakan tentang apa yang mereka pertanyakan kepadanya, dan ketika mereka menanyakan kapan dia akan membuat game lain yang menyerupai Deus Ex, dia memberikan jawaban yang cukup menarik, mari kita lihat untuk lebih jelasnya
Saya pikir hal tersebut adalah hal yang wajar untuk di pertanyakan. Ketika kita memikirkan tentang games, maka hal yang mungkin muncul di benak kita adalah games selalu berasosiasi dengan action. Apa yang kamu lakukan. Games adalah tentang tindakan, bukan? Itu yang mungkin kita lakukan.

Dan ketika saya membayangkan ketika gamers (memainkan Deus Ex) mereka memikirkan, Saya sedang menembak dengan senjata. Anak-anak tidak mungkin melakukan hal tersebut, mereka hidup di dunia nyata, dan hal tersebut merupakan permasalahan orang dewasa. Ketika anak-anak sebagai gamers melihat game sebagai konten, dan melihat konten tersebut, mereka menjadi bingung dengan konten permasalahan dan masalah action seperti yang di ungkapkan di atas.

Tetapi kenyataannya, apa yang membuat game tersebut terlihat dewasa sebenarnya bukan terlihat dewasa, contoh saya memilki senjata, saya bisa mengumpat, dan saya bisa melihat wanita itu (maaf) telanjang..” itu semua tindakan remaja, dan sangat tidak dewasa. Hal tersebut bertolak belakang, dan merupakan sebuah ironi, dimana game yang mature namun menawarkan berbagai konten yang terlihat sangat ‘kekanak-kanakan” Di game Epic Disney, game tersebut memfokuskan mengenai fakta seberapa pentingnya keluarga dan teman bagi dirimu, dan percayakah kamu akan kejahatan yang terlalu dalam sehingga dia tidak bisa di selamatkan ? Di dalam game inilah kamu memutuskan bagaimana kamu mempercayai seseorang, dan tindakan itulah yang membuatmu menjadi dewasa!

Mungkin itu yang menjadi alasan untuk memikirkan pilihan yang akan di lakukan, namun di bandingkan dengan pemikiran “Apakah aku akan membunuh dia atau tidak?” “Lebih baik secara sembunyi-sembunyi atau secara terang-terangan” Dan game ini memberikan bentuk pilihan yang berbeda, dengan konsekuensi dari pilihan yang berbeda pula. Ini yang menjadi genre game yang kita buat saat ini, mencampur semua elemen yang ada dan melihat efek yang terjadi, dalam Deus Ex, kita memiliki konsep mengenai pilihan dan konsekuensi, penambahan elemen RPG dan game stealth lalu kemudia melihat apa yang akan terjadi.

Dan hal tersebut di anggap sebagai game yang mencerminkan game yang dewasa. Dan ini yang kita lakukan, dalam Epic Mickey, kami mengambil elemen penting sepeti Mario, Zelda dan mungkin apapun yang menjadi favoritmu dalam industri game, mencampurnya dan kemudian melihat apa yang terjadi. Karena saya berpikir, hal tersebut akan menjadi menyenangkan, apakah kamu menyadarinya?

Saya berpikir tentang genre yang seringkali di cap sebagai genre untuk anak kecil, kemudian mennggodok semua elemen tersebut, dan kemudian menghasilkan suatu gameplay yang detail dan mendalam, juga dari segi pilihan dan konsekuensi yang dibuat, dan jauh di kembangkan lebih mendalam  di sequelnya, sedapat yang kami bisa. Yang perlu mereka di ketahui adalah, mereka tidak memainkan karakter yang tidak berkacamat hitam, mengenakan trenchcoat atau pun membawa senjata besar. Mereka sedang memainkan karakter berwujud tikus.

Walaupun saya tidak merasa seberapa lancarnya Spector dalam menjelaskan hal tersebut. Atau kebenaran dari fakta tersebut, hal ini bercerita lebih banyak mengenai game Mickey Mouse dibandingkan denga J.C Denton, dan beberapa orang tidak akan memainkan game tersebut walaupun sudah di poles dengan baik di seri keduanya. Orang-orang mungkin tidak akan memberikan kesempatan untuk mencoba game tersebut, kita akan mengetahuinya, segera, dengan metode yang lain.

Dan inti dari segala cerita adalah, aspek penyampaian konten yang di sajikan dengan tetap berpegang pada aspek kedua game tersebut, mengenai pilihan dan konsekuensi nya serta metode penyampaian konten yang lebih friendly dan lebih merangkul berbagai jenis usia.

Source

Ditulis oleh Charles Ong pada 06 September 2012 07:48



Berita Terpopuler

comments powered by Disqus