Dragon Nest (id)

Dragon Nest adalah MMORPG action terbaru dari publisher Kreon, atau dikenal juga dengan nama Gemscool. Well, Dragon Nest memang bukanlah MMORPG yang hitungannya baru sekali, karena game ini sudah dirlis lebih dulu di Amerika dan server Asia Tenggaranya. Namun game ini baru menyapa para pemain lokal pada awal bulan Juli lalu.



Dragon Nest berbeda dengan MMORPG lainnya di Indonesia. Well, game ini memfokuskan pada fitur dungeon. Well, kalian masih tetap bisa berinteraksi dengan pemain lainnya di town, ataupun membentuk party untuk mengalahkan boss dan dungeon yang super susah (Abyss). Main quest dan side quest juga diselesaikan dengan memasuki dungeon dan pemain akan diminta untuk memenuhi permintaan tertentu, barulah kalian ‘lapor’ pada NPC di kota dan menerima reward.

Dalam Dragon Nest server Indonesia, kalian baru bisa memilih 4 character class saja (cleric, warrior, sorcerer dan archer). Pada level 15, kalian bisa memilih second job class, setiap class diberikan dua alternatif pilihan second job. Well, untuk pembuatan karakter, Dragon Nest memang tidak memberikan banyak pilihan, namun kalian masih tetap bisa mengatur warna rambut, warna mata, bentuk wajah, dan style rambut. Saya tidak masalah dengan minimnya opsi kustomisasi wajah, namun masalah saya ada pada gender lock yang ditetapkan dalam Dragon Nest. Misalkan, saya ingin membuat karakter warrior, maka saya hanya bisa membuat male warrior. Yup, character class di Dragon Nest di bagi sesuai dengan jenis kelamin: wanita (archer, sorcerer), pria (cleric, warrior).



Nah, setiap character class ini akan memiliki story mereka masing-masing. Walau nantinya main story setiap karakter akan bertemu pada satu titik tertentu. Oh ya, persiapkan diri kalian untuk menonton cutscene yang cukup keren (walau teks bahasa Indonesianya juga kadang tidak tepat timingnya). Oh ya, setiap dialog yang dilakukan dengan NPC tetap diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, namun dialog pada cutscene tetap dalam bahasa Inggris.

Jika kalian terbiasa dengan MMORPG ‘point and click’ atau ‘cukup tekan satu tombol saja’, mungkin kalian membutuhkan waktu sejenak untuk bisa membiasakan diri dengan Dragon Nest. Hal ini jugalah yang membuat saya agak terhambat saat pertama kali mencoba Dragon Nest. Well, Dragon Nest bukanlah soal menekan mouse sebanyak mungkin, tapi juga menyangkut skill untuk bisa menghindari serangan musuh dan kemudian melancarkan serangan balik. Bahkan, timing penggunaan skill juga harus diperhitungkan. Jika melancarkan skill di saat yang kurang tepat, malahan karakter kitalah yang akan dihajar monster habis-habisan. Namun hal yang mengganggu saya saat memulai Dragon Nest adalah setting kamera dan sudut pandang. Well, saya tidak bisa membuat sudut pandang saya di Dragon Nest menjadi ‘diablo-style’ (yang sangat saya sukai), dan pergerakan kamera kadang sulit untuk dikendalikan sehingga menyulitkan pertempuran. Tetapi, jika kalian berhasil untuk menguasainya, maka hal tersebut bukanlah masalah besar.



Dalam Dragon Nest, pemain tetap bisa mengikuti sejumlah quest, baik itu main quest ataupun side quest. Sayangnya, quest-quest tersebut tidak menghadiahi pemain dengan reward item yang cukup setimpal. Apalagi dengan keterbatasan inventory, item-item tak berguna dari ‘reward’ quest terkesan hanya memenuhi tas saja. (Well, kalian tetap bisa menambah slot inventory sekaligus warehouse dengan membeli item mall). Selain itu, banyak drop item dari dungeon yang tidak bisa dipakai, karena itu equipment untuk class lain, equipment yang levelnya lebih rendah atau terlampau tinggi, ataupun hanya barang ‘sampah’ yang tujuannya untuk dijual (atau memenuhi inventory).

Tetapi, kalian masih bisa menempa equipment yang kalian dapatkan dengan cukup mudah (walau akan menjadi sulit seiring naiknya grade equipment). Fragment yang didapat melalui dungeon akan berguna untuk menempa equipment jika sudah mencapai tingkatan tertentu. Jadi, pikirkan baik-baik slot inventory untuk equipment dan fragment yang dibutuhkan.



Well, hal lainnya yang juga harus dicatat dalam Dragon Nest adalah urusan grafis dan audio. Saya akui, Dragon Nest bukanlah game yang luar biasa dalam hal grafis. Namun Eyedentity Games (developer) ‘mengakali’ kekurangan grafis itu dengan sentuhan anime yang manis. Lagipula, grafis yang super wah memang bukanlah tujuan dari Dragon Nest, terlebih lagi Dragon Nest adalah MMORPG yang dapat dimainkan pada komputer dengan spesifikiasi menengah hingga tinggi.

Namun jika berbicara soal audio, Dragon Nest memiliki kejutan yang menarik. Setiap theme song untuk tiap map dan dungeon digarap dengan cukup baik. Jika kalian menggunakan headphone, kalian bisa mendengarkan perbedaan suara saat monster berada di dekat karakter kalian, ataupun saat monster berada dikejauhan. Hal yang cukup sepele, tapi sangat membantu, terlebih jika monster-monster itu mengepung dari segala sisi, namun kalian tak bisa melihatnya karena terhalang sesuatu.



Kesimpulannya?

Jika kalian memang bosan dengan MMORPG yang ‘cukup tekan satu tombol saja’, dan menginginkan suatu game yang penuh aksi, maka Dragon Nest bisa menjadi pilihan. Jika bosan mengalahkan monster, mengapa tidak mencoba fitur PvP di dalam Dragon Nest untuk mengasah kemampuan kalian melawan sesama pemain? Nah, terlepas dari beberapa kekurangan dalam game ini, Dragon Nest tetap menambah warna-warni dari MMORPG yang ada di Indonesia.


 

Happy gaming

 

Ditulis oleh Chris Yang pada 21 July 2012 21:22



Berita Terpopuler

comments powered by Disqus