Until Dawn Preview

Gue yakin di antara kalian pasti punya tipe nyokap atau mungkin salah satu anggota keluarga maupun temen yang ngga pernah bisa ngga komentar pas lagi nonton film. Apalagi kalo film horror. Pas tokoh protagonis berada di adegan film dimana sang psikopat udah siap menyerang dari tempat persembunyiannya, pasti ada aja yang rewel neriakin si aktor/aktris buat menjauh dari bahaya. Biarpun mereka nyadar kalo ini cuman film horror dimana penonton cuma berperan sebagai observator pasif dan teriakan saran maupun sumpah serapah mereka ke pemeran di film itu sia-sia, tetep aja mereka teriak-teriak dengan bawelnya. Hahaha.

Tapi lain cerita ketika "film horror" yang ditonton punya sisi interaktif dimana "penonton" bisa ikut andil dalam menentukan nasib akhir cerita pemeran film di dalamnya. Itulah keunggulan dari video game yang dimanfaatin oleh studio Supermassive Games buat game terbaru mereka, Until Dawn.



Setelah mengalami masa vakum sejak Until Dawn pertama kali dikenalkan ke publik tahun 2012 untuk platform PlayStation 3 eksklusif sebagai game yang dikontrol dengan PS Move, udah banyak perubahan yang dialami game Until Dawn setelah muncul lagi di publik di ajang Gamescom tahun 2014 lalu. Apa aja peningkatan dan perubahan dalam game Until Dawn yang rencananya bakal dirilis eksklusif untuk platfom PlayStation 4 ini? Gamexeon bakal kupas tuntas dalam artikel preview kali ini.

TEKNOLOGI SUPERMASSIVE GAMES UNTUK UNTIL DAWN




Kalo ngikutin perkembangan info seputar game ini, sekilas kalo dibandingin dengan gameplay game serupa, Until Dawn mirip banget dengan video game keluaran studio Quantic Dream (Fahrenheit, Heavy Rain, Beyond: Two Souls, dan lain-lain). Selain menitikberatkan pada aspek cerita, Until Dawn juga menawarkan adegan a la film horror box office lewat sudut pandang kamera yang sinematis. Karena pengen menampilkan sisi sebuah game yang lebih bernuansa seperti film interaktif, pastinya tuntutan kualitas grafis yang oke jadi faktor utama.



Dengan kemampuan engine yang juga digunakan buat game Killzone Shadowfall dan performa mesin PS4, Supermassive Games terlihat berhasil bikin kualitas grafis game Until Dawn yang bisa dibilang keren. Pengaturan pencahayaan, sudut pandang kamera, dan proses animasi yang canggih berasa makin maksimal di platform terbaru Sony ini. Ditambah bermodal beberapa aktor & aktris ternama Hollywood seperti Hayden Panettiere (Heroes, Nashville), Rami Malek (Night at the Museum, The Twilight Saga: Breaking Dawn Part 2, Need for Speed) dan Brett Dalton (Marvels Agents of S.H.I.E.L.D.) untuk proses motion capture (mocap) semakin menambah kesan hidup suasana mencekam dalam dunia game Until Dawn.

Dalam wawancaranya dengan Polygon, Pete Samuels mengungkapkan penggunaan teknologi electrodermal yang cukup menarik yang berperan penting dalam proses pengembangan game Until Dawn. Untuk meneliti seberapa serem game yang mereka bikin, mereka pake metode "Galvanic Skin Response Testing", yaitu metode dimana perubahan emosi manusia bisa dideteksi dari perubahan kelembaban permukaan kulit dengan alat yang mereka sebut "fear machine". Sejumlah sensor beraliran listrik rendah ditempel ke permukaan kulit yang nantinya berfungsi sebagai pengumpul data dari area kulit yang mengalami perubahan kelembaban. Saat emosi manusia berubah, beberapa area di permukaan kulit manusia rentan mengalami perubahan tingkat kelembaban dan lebih mudah untuk dialiri listrik. Seberapa besar umpan balik area kulit ini setelah dialiri listrik dari sensor akan jadi data yang menentukan seberapa besar tingkat rasa takut seseorang. Menurut Mark Cerny, dulunya metode ini juga pernah hampir diterapkan saat pengembangan gamepad DualShock 4.

PLOT CERITA HORROR KLISE, AKANKAH ENDINGNYA GAMPANG DITEBAK?




Dari segi cerita, game Until Dawn punya plot cerita yang ngga jauh beda dengan film horror Hollywood kebanyakan. Menulis cerita horror yang menarik memang bukan hal yang gampang. Ngga heran kalo susah banget nemu review film horror yang dapet rating tinggi. Supermassive Games berkolaborasi dengan penulis cerita horror Larry Fessenden dan Graham Reznick yang udah cukup lama malang-melintang di dunia perfilman horror. Tapi apakah kolaborasi ini bakal mampu menjamin kualitas cerita game Until Dawn? Jangan keburu skeptis dulu. Yuk, kita coba analisa premis cerita Until Dawn yang udah tersebar di internet.



Liburan di pondok tengah hutan seperti foto di atas bareng temen-temen kayanya seru banget ya. Tapi jadi ngga asik kalo nasib kita berakhir tragis seperti pengalaman para karakter dalam game Until Dawn. Game Until Dawn berkisah tentang 8 muda-mudi yang sedang berlibur di pondok di hutan Blackwood Pines di sebuah area pegunungan terpencil untuk memperingati kematian salah satu teman mereka. Rencana liburan mereka berubah jadi mimpi buruk ketika satu-persatu dari mereka menghilang setelah berhadapan dengan orang aneh bertopeng badut yang ngga lain adalah tokoh antagonis dari game ini. Tiap anggota yang tertangkap dipaksa harus mengikuti permainan mematikan yang udah disiapin sang badut psikopat layaknya adegan film Saw. Tugas kalian sebagai gamer adalah mengendalikan kedelapan karakter ini selama cerita berlangsung untuk menentukan nasib nyawa mereka. Tiap tindakan punya konsekuensi yang akan berpengaruh pada nasib karakter lain. Dalam game, nantinya checkpoint dimana terjadi percabangan alur cerita bakal ditandai dengan ikon kupu-kupu sebagai simbol dari "Butterfly Effect". Akankah semuanya bakal selamat, atau beberapa di antara mereka tewas dalam permainan sang pembunuh berantai, atau akankah semuanya justru bernasib mengenaskan? Semua ada di tangan kalian.

Dari sedikit premis cerita di atas, kita udah bisa mulai menebak-nebak kira-kira siapa pembunuh berantai bertopeng badut yang berkeliaran di daerah Blackwood Pines tersebut. Karena kedelapan karakter utama punya kemungkinan untuk tewas terbunuh, udah bisa dipastikan pembunuh bertopeng itu bukan salah satu dari kedelapan muda-mudi itu. Sekarang tinggal ada dua kemungkinan untuk mengungkap identitas asli sang pembunuh berantai. Dia adalah kerabat dekat dari teman kedelapan orang tersebut yang kematiannya sedang diperingati, atau sang pembunuh adalah murni psikopat asing yang kebetulan ditemui oleh 8 orang tersebut ketika sedang berlibur.



Tapi sepertinya bukan cuma psikopat bertopeng badut aja yang berkeliaran di daerah Blackwood Pines. Seperti yang bisa kalian tonton dari cuplikan gameplay Until Dawn di atas, daerah terpencil tempat mereka berlibur juga dipenuhi kesan mistis dimana roh-roh halus gentayangan. Apakah mereka mantan korban pembunuhan sang psikopat yang berusaha membantu kedelapan muda-mudi tersebut untuk melarikan diri dari nasib tragis, atau justru mereka haus tumbal dan mengantarkan kedelapan muda-mudi tersebut ke liang lahat?

MEKANISME GAMEPLAY DUALSHOCK 4





Meskipun udah beralih dari game yang khusus dikembangin sebagai game PS Move platform PS3 ke game yang kompatibel dengan gamepad DS4 platform PS4, bukan berarti Supermassive Games membuang mekanisme kontrol 6-axis motion sensor. Dari video gameplay sebelumnya terlihat mekanisme kontrolnya ngga jauh beda dengan game sejenis seperti karya Quantic Dream. Akan banyak obyek interaktif dalam game yang bakal memicu adegan-adegan baru dari tiap karakter. Perubahan sudut pandang dari yang semula merupakan sudut pandang orang pertama jadi sudut pandang orang ketiga, juga berpengaruh terhadap keluwesan gerakan karakter. Pergerakan kamera dalam mengikuti karakter di titik-titik ruang sempit cukup dinamis meskipun masih terkesan sedikit mengganggu kontrol arah karakter berjalan. Untuk mekanisme kontrol ketika memasuki mode permainan pengambilan keputusan cepat akan banyak dihiasi dengan QTE. Selain itu juga terlihat ada kombinasi mekanisme kontrol bidikan dengan QTE pada adegan tertentu. Tapi sepertinya penggunaan kontrol motion sensor DS4 akan lebih banyak berperan saat bermain.



Developer Supermassive Games nganggep penelitian akan ilmu pengetahuan tentang rasa takut manusia adalah hal yang serius buat ngembangin game horror yang apik seperti Until Dawn. Kalo dari data alat detektor rasa takut berhasil mendeteksi pemain tester berkeringat secara berlebih, itu berarti game Until Dawn sukses besar menyandang predikat game horror yang tentunya serem. Nasib kedelapan muda-mudi itu akan sepenuhnya berada di tangan gamer. Akan banyak pilihan hidup yang berat untuk menguji seberapa besar nilai moral gamer selama bermain. Jadi, apa kalian udah siap buat ketemu sama "si badut" di PS4 musim panas nanti?

images: supermassivegames.com | blog.us.playstation | forestholidays.co.uk | giantbomb.com

Ditulis oleh Denny Aryadi pada 26 January 2015 18:00



Berita Terpopuler

comments powered by Disqus