The Art of Playing Review

Belum lama ini GOG.com yang dikenal sebagai platform yang merilis PC game bebas DRM, merambah pasar baru dengan diresmikannya katalog konten baru yaitu kategori film. Seperti layaknya PC game yang diperjual-belikan, koleksi katalog film yang ada di GOG juga DRM-Free. Rata-rata genre film yang ada di katalog GOG.com dipenuhi dengan film dokumenter yang tentu pangsa pasarnya ngga lain adalah video gamer dan geek. Segala macem film yang berbau video game, teknologi terkini, sampe studio independen (indie) jadi produk-produk unggulan yang ditawarin kategori barunya ini. Dengan peluncuran kategori item baru ini, GOG.com dengan baik hati ngebolehin para user setianya buat icip-icip 2 film dokumenter gratis. Salah satu diantaranya adalah The Art of Playing.

SETTINGS




The Art of Playing banyak terfokus pada orang-orang yang berprofesi sebagai game developer di daerah Austin, Texas, Amerika. Ngga heran, karena film ini dibikin oleh salah satu komunitas non-profit bernama KLRU-TV yang jadi salah satu penyuplai media kreatif sebagai wadah inspirasi bagi masyarakat, khususnya warga Austin, Texas.

Beberapa pihak yang jadi narasumber dan titik fokus dalam film ini di antaranya seperti studio Tiger Style Games, Davey Wreden (developer game The Stanley Parable yang penjualannya sempat meledak tahun 2013 lalu), Griffin McElroy (Polygon), Alexander Brandon (Founder Funky Rustic LLC), dan studio Certain Affinity.

PERKEMBANGAN VIDEO GAME DI AUSTIN, TEXAS




Perkembangan video game yang terjadi di Austin, Texas, bisa dibilang mewakili apa yang sedang terjadi terhadap perkembangan video game di dunia ini. Dulu seringkali kita nemu banyak pendapat yang memandang video game sebagai salah satu media hiburan secara sebelah mata. Entah video game disebut sebagai hiburan untuk anak kecil, media hiburan non-produktif yang buang-buang waktu, dan sebagainya.

Video game bukan lagi sebatas subkultur, tapi udah berkembang jadi sebuah budaya seutuhnya. Kekuatan komunitas gamer jadi pemicu lahirnya banyak konferensi event-event geek, khususnya gamer di berbagai belahan dunia. Menguatnya posisi video game ini, seolah-olah menepis bahwa video game bukan lagi "milik" komunitas gamer semata. Suatu budaya adalah milik bersama. Siapapun berhak mengagumi dan merasa memiliki.



Hal ini terbukti dengan salah satu potongan film dimana Adam Saltsman, seorang indie game developer berjudul Breakdancing Superspy, mempresentasikan gamenya di salah satu ajang perkumpulan peminat game indie, Juegos Rancheros, Austin. Para pengunjung yang dateng ngga cuma dari komunitas gamer aja, tapi juga berasal dari komunitas lokal penikmat film, para coder, dan pendatang dari luar kota. Mereka berkumpul didasari rasa penasaran dan ketertarikan yang sama. Dari situlah bibit-bibit penikmat video game muncul. Pemandangan yang nyenengin banget dimana orang-orang bisa saling menghargai apa yang jadi hobi orang lain, dan dalam hal ini ngga lagi memandang video game secara sebelah mata. Justru mereka ikut seneng-seneng bareng di dalamnya.

Perubahan status video game di mata masyarakat ini bisa kita lihat hasil nyatanya. Dulu, mana ada jurusan perkuliahan yang fokus mendalami ilmu pengembangan video game? Beda dengan sekarang. Percabangan akan perkuliahan di bidang seni dan IT terutama udah makin banyak ragamnya. Mata kuliah baru juga banyak bermunculan buat memfasilitasi para mahasiswa untuk lebih mendalami tentang proses pengembangan video game.



Mungkin perkembangan budaya video game secara "bergerilya" ngga cuma terjadi di Austin, Texas, tapi juga di banyak tempat di dunia. Di Cina, penyebaran video game konsol terlebih game dari luar Cina dilarang. Tapi industri game online dan game PC makin tumbuh subur, bahkan berkembang jadi salah satu cabang olahraga yang diresmikan sebagai e-sport. Dengan banyaknya dampak positif yang dilihat dari budaya video game ini, mungkin hal ini juga yang membuka mata pemerintah Cina menghapus kebijakan pelarangan distribusi video game konsol. Paling ngga untuk saat ini.

PERKEMBANGAN VIDEO GAME DI AUSTIN, TEXAS




Industri video game akan terus tumbuh dipenuhi orang-orang kreatif yang baru. Entah mereka yang bergerak secara independen ataupun terkumpul dalam satu wadah resmi dalam studio raksasa yang menangani game kelas Triple-A. Bukan soal dalam wujud cara apa mereka bergerak, tapi sejauh apa kemampuan mereka buat ngembangin budaya video game ini.

Celotehan Max Hoberman selaku pimpinan dari studio Certain Affinity cukup menggelitik. Studio-studio game Triple-A kelas kakap dengan segala peraturan birokrasinya yang ribet, kadang jadi salah satu dari sekian faktor penghambat laju proses pengembangan sebuah video game. Kadang butuh waktu bertahun-tahun bagi studio besar cuma buat ngelarin satu judul game aja. Itupun kalo gamenya jadi. Tapi dengan segala kebebasan berekspresi dan tingginya nilai demokrasi yang dimiliki studio game indie, ini jadi nilai plus tersendiri. Banyak studio besar yang justru butuh bantuan dari talenta-talenta developer yang berasal dari studio game indie. Pada akhirnya, staf dari studio game indie lah yang selain dapet upah yang cukup gede dari studio game kelas Triple-A, tapi juga sekaligus dapet pengalaman gimana cara game sekelas Triple-A itu sendiri.

VERDICT




Dalam film dokumenter ini juga sedikit ngebahas topik mengenai seksisme dalam industri video game, dimana jumlah gender perempuan masih rendah kalo dibanding gender laki-laki yang bergerak di bidang yang sama. Tapi jumlah mereka terus mengalami peningkatan biarpun setahap demi setahap. Dan ini merupakan suatu hal yang bagus, karena seperti yang gue bilang di awal. Video game ngga cuma hiburan semata, tapi udah jadi budaya dimana setiap orang berhak untuk merasa memiliki. Mungkin menurut pendapat gue secara pribadi, judul film dokumenter ini sedikit "misleading" karena lebih berfokus pada pergerakan perkembangan video game sebagai media hiburan yang mulai membudaya di masyarakat, khususnya di Austin Texas. Tapi secara keseluruhan, hal-hal yang dipaparkan cukup menarik. Kita jadi ngerti seperti apa perkembangan video game di Austin, Texas. Cukup worth untuk ditonton.



Versi lengkap filmnya bisa kalian download secara gratis di GOG.com - The Art of Playing yang tersedia dalam 3 versi definisi (1080p, 720p, 576p) disertai dengan bonus wallpaper, trailer, dan subtitle dalam Bahasa Inggris.

Ditulis oleh Denny Aryadi pada 18 September 2014 13:00



Berita Terpopuler

comments powered by Disqus