Video Games: The Movie Review

Ketika video game udah jadi sebagian dari jiwa kita, darah daging yang akhirnya berevolusi menjadi hasrat hidup yang sering kita kenal dengan "Passion", kita akan berusaha mencoba menggali dan mengenali lebih dalam yang namanya video game. Begitu kita denger hal apapun yang berbau video game, pasti bakal kita samperin.

Sama halnya seperti salah satu film dokumenter video game yang rilis bulan lalu, berjudul Video Games: The Movie. Setelah sukses menggalang dana dengan berkampanye di Kickstarter,
Video Games: The Movie rilis secara resmi pada tanggal 18 Juli 2014 lalu. Buat yang bulan lalu udah ngebet pengen nonton, terutama buat kalian yang di Indonesia tentunya beruntung banget karena versi torrent film ini udah nongol 3 hari lebih awal sebelum dirilis secara resmi. Hahaha!

So, segimana kerennya sih Video Games: The Movie buat kalian tonton, terutama buat yang katanya ngaku gamer? Gamexeon udah siapin reviewnya di paragraf berikutnya. ;)

SEJARAH VIDEO GAME




Dengan lagu "Don't Stop Me Now"-nya Queen, dikombinasi dengan potongan-potongan adegan video game mulai dari yang jadul sampe yang baru, Video Games: The Movie mengawalinya dengan epic sebelum kita nonton konten yang lebih epic lagi. Sejarah Video Game.

Sebagai generasi gamer yang kritis, pastinya belum cukup rasanya kalo kita kenal video game sebatas ngerti, punya, dan mainin gamenya doang. Kita perlu ngerti gimana proses awal mula terciptanya video game dan siapa orang-orang yang berada di belakangnya? Evolusi apa aja yang udah dilewati video game hingga bisa berkembang sampe seperti sekarang ini?

Dari salah satu cuplikan film, kelihatan lucu dan nyenengin ketika tiap orang punya jawaban yang beragam ketika ditanya,"Siapa Bapak Video Game?"

Ada yang jawab Nolan Bushnel (founder Atari), Ralph Baer (pencipta home-console pertama), Shigeru Miyamoto, bahkan sampe Hideo Kojima. Kita semua punya role-model yang kita kagumi dalam dunia video game. Haha! Siapapun orangnya bukan masalah. Yang terpenting adalah ucapan terima kasih buat mereka yang nyiptain dan turut membantu ngembangin video game dengan segala "keajaibannya" yang jadi bagian dari masa kecil kita hingga seperti sekarang ini.

VIDEO GAME ADALAH SENI, DAN SENI BERSIFAT SUBYEKTIF




Yup, pendapat ini bener. Seni sifatnya subyektif. Ngga semua orang paham dan bisa suka sama seni itu. Bahkan ada yang nganggep sebuah seni adalah "sampah". Sesuatu yang dianggep sebagai seni bagi sebagian orang, bisa jadi adalah "sampah" bagi orang lain. Vice versa.

Sama halnya dengan video game. Awal-awal masa ketika banyak orang nganggep video game sebagai sebuah seni inilah yang justru bikin developer game saling berlomba-lomba untuk bisa memberikan pengalaman main game yang ngga terlupakan dengan limitasi kualitas grafis dari spesifikasi platform yang mereka gunakan.

Kita udah pernah bahas di artikel Video Game Lebih dari Sekedar Grafis di Gamexeon sebelumnya.

CLOUD GAMING, MASA DEPAN VIDEO GAME(?)




Bahasan akan masa depan video game yang memasuki era cloud gaming juga sempet disinggung dalam film ini oleh David Perry (Co-founder Gaikai). Dengan manfaatin teknologi cloud-computing, main game seberat apapun dengan platform berspesifikasi apapun, selama pemrosesan data berjalan di cloud-server dan gamer punya kecepatan akses internet yang mumpuni, ngegame kapanpun & dimanapun bukan masalah.

JATUH BANGUN ERA VIDEO GAME




Biarpun omzet yang dihasilkan industri video game udah melebihi pendapatan tahunan Hollywood sekalipun, bukan berarti keuntungan dalam berbisnis di industri ini sifatnya kekal. Para developer game dan gaming platform terutama, bisa belajar dari kesalahan Atari yang mengalami kebangkrutan dan berimbas di menurunnya minat masyarakat terhadap video game. Saat itulah Nintendo masuk ke pasar dengan memboyong Nintendo Entertainment System (NES) yang kita kenal semasa kecil. Kejelian Nintendo dalam membaca permintaan pasar berhasil sekali lagi bikin video game hidup di tengah-tengah kita sampe sekarang.

VERDICT




Video Games: The Movie ngga cuman nunjukin sebuah film dokumenter sebagai sebatas medium gamer untuk belajar sejarah video game. Ada beberapa segmen bahasan dalam film yang juga menyinggung sedikit-banyak info dan fakta menarik tentang video game sebagai sebuah budaya.

Ada satu kutipan kalimat menarik dari Wyeth Johnson (Art Director, Epic):

"Even though I make them every day, even though I play broken games for years before they're perfect and we put them on a shelf, and, you know, there's so many issues that go along with that, I still have the capability of being transported back to that little kid wrapped in a blanket staying up way too late sitting in front of a tiny television, obsessed. And I really, really wanna give that to another eight-year-old kid and have him feel the same thing thirty years from now as well."


Yup, kita akan mengalami masa disaat kita jadi orang tua. Orang tua yang memperkenalkan video game pada anak-anak mereka. Berbagi asiknya pengalaman begadang semalam suntuk di akhir pekan, hanya untuk tenggelam dalam permainan video game di ruang keluarga rumah kita.



Biarpun dari sisi konten sebenernya masih banyak hal yang belum dibahas secara lebih mendalam di film Video Games: The Movie, editingnya cukup bagus dan pemilihan dan eksekusi latar musiknya keren dan cukup kena feel-nya. Singkat kata, Video Games: The Movie wajib ditonton terutama buat kalian yang ngaku seorang gamer. Tertarik dengan sejarah, budaya, perkembangan, dan punya kecintaan atau rasa nostalgia terhadap video game? Tonton Video Games: The Movie.

Ditulis oleh Denny Aryadi pada 14 August 2014 13:00



Berita Terpopuler

comments powered by Disqus